Hari Jum'at tanggal 6 September 2013 merupakan hari pertama pelaksanaan program Silent Reading di Internat Al Kausar. Ini memang bukan bukan program perpustakaan secara khusus melainkan program sekolah pada hari jum'at pagi. Program Jum'at pagi ini ada beberapa jenis yang dilakukan secara berselang-seling setiap minggu. Selain Silent reading, ada sholat Dhuha,dan program lain di pekan ke-lima (jika ada 5 Jum'at dalam satu bulan). Waktu pelaksanaannya adalah pukul 07.00 hingga pukul 08.00, sebelum jam pelajaran lain di kelas dimulai.
Untuk minggu pertama September ini, murid SMP mendapat giliran melaksanakan program Silent Reading. Kelas 7 mendapat giliran pertama untuk membaca di perpustakaan. Sedangkan kelas 8 dan kelas 9 membaca di kelas masing-masing dengan bahan bacaan mereka sendiri atau buku-buku perpustakaan yang dipilihkan oleh Ketua kelasnya masing-masing.
Di perpustakaan, program Silent Reading ini berjalan lancar. Kebetulan cukup banyak murid kelas 7 yang memang suka membaca. Maka mereka pun memilih bacaan yang mereka suka dan membacanya dalam diam. Untuk 15 menit pertama, mereka harus membaca sendiri (benar-benar reading in silence). Setelah itu mereka diperbolehkan membahas bacaannya dengan temannya dengan suara yang tidak terlalu ribut. Dan Kelas 7 melaksanakannya dengan baik. Beberapa murid kemudian meminjam buku yang belum selesai dibacanya.
Murid putra membaca di ruang ex-audio visual. Mereka membaca buku, majalah atau koran.
Murid putri membaca di area baca putri.
Setelah sekitar 30 menit, saya sempatkan memantau pelaksanaan program ini di kelas, yaitu untuk kelas 8 dan 9. Tampak hanya beberapa murid yang memang suka membaca yang masih betah membaca. Yang lainnya ada yang mengobrol dengan temannya atau pergi dari ruang kelas. Tapi secara umum pelaksanaannya cukup baik. Meskipun saat meminjam buku di perpustakaan agak sedikit ribut dan ada salah pengertian, murid-murid mengembalikan buku yang dipinjam sebelum bel jam pelajaran di mulai.
Adanya program membaca tentu saja merupakan hal baru yang saya sambut baik. Apalagi program ini datanya dari pihak sekolah, sehingga lebih terjamin keterlaksanaannya. Berbeda dengan jika program tersebut merupakan program perpustakaan, belum tentu semua mendukung.
Memang tidak semua murid (dan guru) suka membaca. Maka ketika di di menit ke 30 dari program ini murid sudah banyak yang tidak lagi membaca, hal itu dapat dipahami. Namun program ini mungkin akan dapat memunculkan minat baca. Setidaknya murid dipaksa terbiasa membaca. Mudah-mudahan yang semula terpaksa, akan jadi suatu kebiasaan. Tidak salah rasanya melakukan pemaksaan untuk sesuatu kebiasaan yang baik.
Tinggal nanti dicari metode terbaik agar kegiatan ini tidak membosankan, dan mencapai hasil yang diharapkan.


No comments:
Post a Comment